Pendidikan? Unas? SNMPTN? Jalur Undangan

6 April 2011

Klik http://unesa.ac.id


Praktikum “Elastisitas”

3 Januari 2010

Bosan dengan praktikum elastisitas yang hanya seputar pegas yang dibebani? Bagaimanakah jika konsep-konsep elastisitas (misalnya tegangan dan regangan) digunakan untuk pemecahan masalah dalam bidang teknologi makanan? Berikut ini satu contohnya.

Klik: lkm-elastisitas.doc

Walaupun LKM ini didesain untuk mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga, tapi kemungkinan besar bisa dimanfaatkan untuk siswa SMA, atau bahkan Fisika Dasar untuk Calon Guru MIPA.


THE INTEGRATION OF INTERACTIVE MULTIMEDIA, COLLABORATIVE WORK, AND REFLECTIVE THINKING ON INTRODUCTORY PHYSICS COURSE TO INCREASE PROBLEM SOLVING SKILLS

21 Desember 2009

Wahono Widodo

Home Economics, Surabaya State University (wahonow@gmail.com)

Suhardi

Bandung Institute of Technology (mr.suhardi@gmail.com)

ABSTRACT

Improving problem solving skills on non-physics major students through introductory physics course is one of challenging tasks, but it is less studied. The objective of the research was to know the effectiveness of integration of interactive multimedia, collaborative work, and reflective thinking on introductory physics course to increase problem solving skills on prospective of vocational high school teachers in foods program.

The research used control group pretest-posttest design. The populations were students of prospective of vocational high school teachers in foods program of state university in East Java. The samples were taken by purposive random sampling technique, and then divided into two groups by matching group technique, 35 students on experiment group as well as 33 students on control group. On experiment group, students posed by problems that had to resolved by collaborative works. In order to resolve the problems, student learned concepts underlies of the problem through interactive multimedia. After problems were resolved, students reflected the steps of resolving problems. Problem solving test on elasticity, fluids, as well as temperature and heat was used as instrument. Data was analyzed with Mann-Whitney U Test, to compare normalized gain between experiment group and control group

Result showed that integration of interactive multimedia, collaborative work, and reflective thinking  on Introductory Physics course  was effective to improve the problem solving skills on  prospective of vocational high school teachers in foods program.

Keywords: interactive multimedia, collaborative, reflective, problem solving, prospective of vocational high school teachers in foods program.

Catatan: Makalah disajikan di: the International Seminar and Workshop on Mathematics and Science Teaching Innovation 2009 (FMIPA UNY, 12 Desember 2009). Makalah selengkapnya, hubungi saya.


THE DEVELOPMENT OF INTERACTIVE MULTIMEDIA ON INTRODUCTORY PHYSICS LEARNING FOR PROSPECTIVE OF VOCATIONAL HIGH SCHOOL TEACHERS IN FOODS PROGRAM

24 November 2009

Wahono Widodo [Home Economics, Surabaya State University (wahonow@gmail.com)]

Liliasari Indonesia [University of Education (liliasari@upi.edu)]

ABSTRACT

The research was part of ongoing research, aimed to develop an interactive multimedia (IM) on the Introductory Physics courses to support the learning model that can develop problem solving skills and application of physics concepts for prospective of vocational high school teachers in foods program.

The research used Research and Development (R & D) approach by using the first three stages of 4-D models, i.e. define, design, and develop. The details of the stages were: (1) the literature review and need assessment, (2) formulation of competences indicators, (3) formulation of learning model, (4) formulation of the IM design, (4) the development of story boards, (5) obtaining relevant files, video, graphics/animation, and audio production, (6) authoring and debugging, (7) phase I try out, (8) revision I, (9) expert judgment, (10) Phase II try out, and (11) revision II. For testing purposes, the research subjects were prospective of vocational high school teacher in foods program on a state university in East Java. The sample selected by purposive random sampling technique. Data analysis performed by descriptive analysis and Mann-Whitney U test to compare the sample responses results of phase I and phase II try out.

The research has developed IM in elasticity and fluid concepts. The research showed that according to student responses, the IM assessed 94.8% of the ideal conditions in stage I and 96.0% in stage II. The significant improved responses occurred in sub concept “stress and strain” and “Young’s modulus”. The research also showed that expert judged 85.6% of ideal conditions on the content, technical and presentation of IM. These results indicate that IM has been developed appropriates for use in teaching and learning Introductory Physics for prospective of vocational high school teachers in foods program.

Keywords: interactive multimedia, introductory physics, prospective of vocational high school teachers in foods program.

selengkapnya, klik: makalah_mmi.pdf

Catatan: makalah ini ditampilkan pada International Seminar on Science Education, Bandung, 2009.


Model Supervisi Pendidikan IPA

4 Agustus 2009

Kata supervision diturunkan dari dua kata “superior” dan “vision”. Asal kata ini memberi kesan bahwa satu pihak dalam supervisi lebih berkuasa daripada pihak lain. Hasil analisis Reitzug (dalam Gentry, 2002) menunjukan bahwa supervisor digambarkan sebagai seorang yang “expert dan superior”, sedangkan guru digambarkan sebagai penuh kekurangan dan memerlukan bantuan ahli. Zepeda dan Ponticell  menemukan 5 kategori supervisi menurut guru, yakni: 1) supervisi sebagai hubungan antara “anjing dan kuda poni” ; 2) supervisi sebagai senjata; 3) supervisi sebagai kegiatan rutin yang tidak bermakna; 4) supervisi sebagai sarana memenuhi daftar isian; dan 5) supervisi sebagai intervensi yang tidak diharapkan guru. Blumberg  mendeskripsikan hubungan negatif antara supervisor dengan guru, yakni adanya rasa sebal guru terhadap supervisor, dan hal ini menjadi penghalang utama untuk medapatkan keuntungan dari praktik supervisi. Guru merasa bahwa supervisor tidak memberikan bantuan yang bernilai, dan supervisi sekedar sebagai alat kontrol dan perpanjangan tangan kekuasaan. Sergiovanni dan Starratt menyatakan bahwa “Pada keadaan terbaik, supervisi memandu dalam memberikan keputusan evaluatif berdasarkan bukti/kenyataan. Pada keadaan terburuk, supervisi menghancurkan otonomi, kepercayaan diri, dan integritas personal guru”. Guru seharusnya memandang supervisi sebagai evaluasi setara (antara supervisor dengan guru), untuk menemukan faktor-faktor, sehingga supervisi yang dilakukan dalam kunjungan kelas untuk mendapatkan data yang obyektif, bebas prasangka, dan berfokus untuk peningkatan pengajaran guru. Hal ini membutuhkan rasa saling percaya, terutama rasa percaya guru terhadap supervisor, bahwa supervisi tidak digunakan sebagai alat penekan yang mengusik dan menghancurkan wilayah teritorial guru. Jadi, kata kunci yang digunakan dalam membangun model supervisi pendidikan IPA adalah kesetaraan dan rasa saling percaya, seperti yang disampaikan Schmuck dan Runkel bahwa “kualitas dibangun setapak demi setapak, ditancapkan oleh dedikasi dibandingkan kata-kata dan dikekalkan oleh keterbukaan dalam hubungan interpersonal”. Saya pernah mendapatkan kesempatan menjadi supervisor dalam supervisi klinis CTL IPA terhadap guru SMP beberapa kabupaten di Papua. Berdasarkan pengalaman tersebut, saya merasakan betul sulitnya membangun hubungan antara supervisor dengan yang disupervisi, situasinya mirip dengan kutipan-kutipan di atas. Saya kemudian merenungkan, bagaimana, ya … model supervisi yang kemungkinan  berhasil. Asumsi-asumsi apa yang membangun model tersebut, serta bagaimana gambaran model tersebut jika diimplementasikan. Lebih jelasnya, klik: model-supervisi-pendidikan-ipa.pdf


“Mengungkep” (Contoh Buku Siswa SMK Program Keahlian Tata Boga)

28 Juli 2009

Saya melihat “jejak” teman-teman yang mencari contoh buku siswa SMK program keahlian (pariwisata) Boga. Langsung saya teringat, bersama dengan bu Luthfiyah Nurlaela, Bu Niken Purwidiani, dan Bu Lucia Tri Pangesthi (God bless them) saya pernah mengembangkan contoh Buku Siswa untuk SMK pada materi pokok “Dasar Memasak”. Bagi yang kepingin donwnload, silahkan klik: contoh-buku-siswa-smk-tata-boga-mengungkep.pdf


Praktikum Fisika Dasar yang “Dekat” dengan Kehidupan

26 Juli 2009

Salah satu problem perkuliahan Fisika Dasar bagi mahasiswa nonmajor fisika adalah relevansi perkuliahan tersebut dengan “dunia nyata” yang ditekuni mahasiswa tersebut. Berkaitan dengan hal itu, saya tidak terlalu setuju dengan pendapat yang dianut berbagai PT besar di Indonesia, yang kurang lebihnya: kompetensi yang dikembangkan pada Fisika Dasar khan udah jelas, dan berlaku universal. Jadi, ajarkan saja Fisika Dasar secara sama untuk mahasiswa berbagai jurusan yang mengambil Fisika Dasar. Nanti mereka akan dapat mengaplikasikan sendiri dalam konteks mereka. Akhirnya, yang terjadi dalam Praktikum Fisika Dasar umumnya adalah “mengukur besaran yang dipelajari”. Sebagai contoh, saat praktikum tentang “Viskositas”, mereka akan belajar mengukur viskositas (misalnya oli) trus menemukan galat dari pengukurannya. Thats all ….. Lantas, kapan mereka berlatih menerapkan konsep ini dalam konteks dunia nyata mereka?

Tentu saja, terdapat kutub pemikiran lain, yang kurang lebih: “Ajarkan konsep Fisika Dasar sesuai konteks mahasiswa”. Jadi, akan ada Fisika Dasar untuk mahasiswa Teknik Mesin yang penekanann konteks permasalahannya berbeda dengan Fisika Dasar untuk Teknik Elektro atau (lebih ekstrimnya) untuk Tata Boga ….. Saya termasuk yang cenderung sepakat dengan kutub pemikiran ini. Saya mencoba mengemas perkuliahan Fisika Dasar (perkuliahan + praktikum (sesi terstruktur) + kegiatan mandiri) untuk mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga. Kegiatan kuliah dipandu dengan multimedia interaktif. Kegiatan praktikum berupa kegiatan pemecahan masalah yang mencoba mengaplikasikan konsep yang didapat melalui multimedia interaktif untuk memecahkan masalah yang relevan (tidak sekedar mengukur besaran tertentu). Berikut ini adalah salah satu contoh LKM untuk maksud tersebut. lkm-visositas.pdf


Pengambilan Keputusan: Bisa dengan Sendirinya?

14 Juli 2009

Setiap hari manusia berhadapan dengan berjibun kondisi, persoalan, pilihan, dan sejenisnya yang membuatnya HARUS MENGAMBIL KEPUTUSAN.

Lantas, apa dasar pengambilan keputusannnya? Seberapa tepatkah keputusan yang diambilnya? Pernahkah kita “diajari” cara mengambil keputusan oleh guru ato dosen kita? Jika demikian, apakah Anda yakin cara pengambilan keputusan Anda selama ini tepat???

Untuk langkah awal, klik keterampilan-pengambilan-keputusan.pdf


Segitiga Pengaman dalam Asesmen

12 Juli 2009

Asesmen butuh segitiga pengaman???? Walah ……

Klik: segitiga-asesmen.pdf


Dari (Sekedar) Kemampuan Teknis Merambah ke Kemampuan Generik

10 Juli 2009

Ketika ditanya, “Apakah IPK merupakan penentu keberhasilan di tempat kerja?”, teman-teman menjawab:

jelas tidak,.. tergantung dari: kabegjan,.. etos kerja,.. motivasi, .. semangat,.. dll.
so,.. IPK tinggi belum tentu sukses,…
Ratna Palupie at 2:57pm July 7
sblm menjwb, penting u mempertanyakan akuntabilitas dr lembaga yg mengeluarkan ip tsb. skrng bnx lo universts yg jual ijasah -ip. utk kesuksesan dlm bekerja, ipk yg acuntable, adlh bhn dsrnya, diolah dg usaha dan tanggung jwb, d bumbui motivasi, disajikan dg doa dan berserah diri. amin
 Alim Sumarno at 3:58pm July 7
yang lebih penting dari IPK?
…. yang lebih mahal banyak..

 Nanik Helmi at 4:54pm July 7
Nasib baik, dan networking, yg lebih diutamakan kalo disini
 Yanti Suryanti at 7:59pm July 7
Yg terpenting ya..pengalaman, kesempatan, etos kerja, EQ, motivasi dan dedikasi, loyalitas, dan hoki

 Slamet Riyanto at 10:56pm July 7
sing penting pinter ubet….
  Masfiah Adji Soko at 8:17am July 8
IPK biasanya sbg syarat untuk bs melamar pekerjaan. Urusan sukses atau tdk.. trgantung eksistensi, loyalitas, dedikasi…dll
 Danang Tandyonomanu at 7:46am July 9
sekarang tidak banyak lowongan yg mengutamakan IPK tinggi. communication skill, bahasa asing, team work player malah diutamakan. tp itu justru malah dipinggirkan di pendidikan kita…cuma sebagai pemanis saja..tambahan pengetahuan tok…
  Wahono Widodo at 9:41am July 9
Yah …. itulah …. karena itu “generic competences”, akhirnya (secara umum) dosen tidak melatihkan di perkuliahan. Kita cenderung melatihkan yang “technical competences”, sesuatu yang dicerminkan di IPK. Lantas, gimanaaaaa?????
 Danang Tandyonomanu at 2:34pm July 9
nah karena ente menganggapnya “generic competences” itu yang jadinya sebagai dosen juga tidak memperhatikan, karena justru orang yg berhasil itu yg memiliki kelebihan di bidang yang katanya “generic competences” itu.
hayyooo…masihkah kita akan menganggapnya “generic”…?
 Wahono Widodo at 2:42pm July 9
Kalo dari definisinya, emang itu kompetensi generik (atau minimal keterampilan generik). (Kembali lagi) liat di blog saya. Pertanyaannya kembali lagi: sanggupkah dosen melatihkan itu? Umumnya akan bilang: “Itu bukan kapling saya”. Lalu kapling siapa???? Ada yang bilang: “Itu seharusnya diasah sendiri melalui ekskul”. Teganya …. Saya juga udah coba memetakan: “keterampilan generik apa, sih, yang diperlukan untuk jadi guru yang baik?” Ternyata berjibun jumlahnya. Ntar tak upload
 Danang Tandyonomanu at 3:24pm July 9
iya sori baru baca..baru bisa ngelink…
penelitianku tentang kompetensi komunikasinya bos…terutama untuk mhs calon guru
entah gimana hasilnya..
 Danang Tandyonomanu at 3:31pm July 9

kalo nemu sumber referensi untuk kompetensi komunikasi guru, boleh dibagi. nanti jadi pembanding bagaimana kualitas mhs calon guru kita..terutama di unesa
jd ketahuan entar kekurangannya apa…
bisa dirancang nanti kita harus apa…

Naaaahhhh ……, bagi yang masih kepingin tau, ini dia tentang kemampuan generik (cukup 2 menit, udah ada gambaran besar). Klik keterampilan-generik.pdf

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.