Model Supervisi Pendidikan IPA

Kata supervision diturunkan dari dua kata “superior” dan “vision”. Asal kata ini memberi kesan bahwa satu pihak dalam supervisi lebih berkuasa daripada pihak lain. Hasil analisis Reitzug (dalam Gentry, 2002) menunjukan bahwa supervisor digambarkan sebagai seorang yang “expert dan superior”, sedangkan guru digambarkan sebagai penuh kekurangan dan memerlukan bantuan ahli. Zepeda dan Ponticell  menemukan 5 kategori supervisi menurut guru, yakni: 1) supervisi sebagai hubungan antara “anjing dan kuda poni” ; 2) supervisi sebagai senjata; 3) supervisi sebagai kegiatan rutin yang tidak bermakna; 4) supervisi sebagai sarana memenuhi daftar isian; dan 5) supervisi sebagai intervensi yang tidak diharapkan guru. Blumberg  mendeskripsikan hubungan negatif antara supervisor dengan guru, yakni adanya rasa sebal guru terhadap supervisor, dan hal ini menjadi penghalang utama untuk medapatkan keuntungan dari praktik supervisi. Guru merasa bahwa supervisor tidak memberikan bantuan yang bernilai, dan supervisi sekedar sebagai alat kontrol dan perpanjangan tangan kekuasaan. Sergiovanni dan Starratt menyatakan bahwa “Pada keadaan terbaik, supervisi memandu dalam memberikan keputusan evaluatif berdasarkan bukti/kenyataan. Pada keadaan terburuk, supervisi menghancurkan otonomi, kepercayaan diri, dan integritas personal guru”. Guru seharusnya memandang supervisi sebagai evaluasi setara (antara supervisor dengan guru), untuk menemukan faktor-faktor, sehingga supervisi yang dilakukan dalam kunjungan kelas untuk mendapatkan data yang obyektif, bebas prasangka, dan berfokus untuk peningkatan pengajaran guru. Hal ini membutuhkan rasa saling percaya, terutama rasa percaya guru terhadap supervisor, bahwa supervisi tidak digunakan sebagai alat penekan yang mengusik dan menghancurkan wilayah teritorial guru. Jadi, kata kunci yang digunakan dalam membangun model supervisi pendidikan IPA adalah kesetaraan dan rasa saling percaya, seperti yang disampaikan Schmuck dan Runkel bahwa “kualitas dibangun setapak demi setapak, ditancapkan oleh dedikasi dibandingkan kata-kata dan dikekalkan oleh keterbukaan dalam hubungan interpersonal”. Saya pernah mendapatkan kesempatan menjadi supervisor dalam supervisi klinis CTL IPA terhadap guru SMP beberapa kabupaten di Papua. Berdasarkan pengalaman tersebut, saya merasakan betul sulitnya membangun hubungan antara supervisor dengan yang disupervisi, situasinya mirip dengan kutipan-kutipan di atas. Saya kemudian merenungkan, bagaimana, ya … model supervisi yang kemungkinan  berhasil. Asumsi-asumsi apa yang membangun model tersebut, serta bagaimana gambaran model tersebut jika diimplementasikan. Lebih jelasnya, klik: model-supervisi-pendidikan-ipa.pdf

Satu Balasan ke Model Supervisi Pendidikan IPA

  1. riza mengatakan:

    saya rasa pendapat anda memang benar, tapi saya berpandangan bahwa supervisi itu tidak begitu seram, manakala kita sudah siap sebagai pendidik yang profesional dan proporsional dalam melaksanakan pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: